Langsung ke konten utama

Bolehkah menjadi manusia yang biasa-biasa aja?

Bertahan, Menerima dan Ikhlas.

‎Tiga kata, yang sekarang mencoba masuk ke dalam hidup gue. Sekeras apapun usaha gue untuk mengabaikan, tapi pada akhirnya mereka memang di takdirkan untuk ada di kehidupan gue. Sebagai manusia yang gak begitu suka dengan permasalahan yang kompleks, ketiga kata ini bakal jadi boomerang.

‎Gue butuh ruang untuk gak memikirkan semua itu. Tapi terkadang pertanyaan random bakal keluar saat pikiran mulai overthinking, dan akhir-akhir ini gue ngerasa semua pikiran negatif mulai bersarang di otak kecil gue. Tanpa disadari gue sering mempertanyakan "Nggak apa-apa kan kalau jadi orang biasa aja?". Dalam arti, gak lagi berlomba untuk jadi pemenang atau tidak selalu menjadi yang terbaik.

‎Di sisi lain, gue masih bertanya-tanya "Orang biasa tuh, seperti apa sih?"


‎Apakah menjadi orang yang tidak melakukan apapun? atau menjalani hidup sehari-hari tanpa memikirkan ekpektasi orang?

‎Seberapa jauh gue harus melangkah untuk bisa dianggap berhasil? 

‎Karena menurut gue, mampu menjalani kehidupan, seperti bangun pagi, ibadah, berangkat kerja, menyelesaikan tugas, pulang ke rumah, dan tetap bertahan, itu merupakan hal yang patut diapresiasi. Bahkan di tengah kehidupan yang terasa gak baik-baik aja, itu sebuah pencapaian yang luar biasa. 


‎At least, gue udah semaksimal ini untuk bisa bertahan, tapi banyak orang yang gak bisa menerima kenyataan kalo batas gue cuma sampai sejauh ini. Gue udah berdamai dengan semua itu, terserah mereka akan mengatakan apa, tapi yang harus gue hargai adalah usaha dan doa yang membuat gue bisa bertahan, menerima dan ikhlas.



‎Sekarang gue berani menjawab, "Boleh gapapa, serius gapapa kalo lo mau menjadi orang biasa aja, lakukan!".

‎Seenggaknya lo, nggak merugikan dan menyusahkan orang lain. Kita semua udah jadi "Something special" sejak lahir.

‎Kita sebenarnya udah jadi seseorang, di mata orang yang tepat dan di mata Sang Pencipta.


‎Gue pernah baca sebuah kalimat: 

‎“What are you afraid of losing, when nothing in the world belongs to you?” 

‎Jadi, cobalah untuk bahagia setiap hari. Usaha saja dulu, kalo gagal? Coba lagi. Kalo masih gagal, cari cara lain. 

‎Well, for me, it’s fine as long as we have done our best. 

‎Setiap orang punya perannya masing-masing. 

‎Termasuk peran jadi “Orang yang biasa-biasa” saja.

‎That's all


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Depan Mau Apa?

Udah lama banget gue gak nongol untuk menulis, sampai gak kerasa kalau udah ganti tahun aja. Banyak hal yang terjadi selama 12 bulan. Dan sudah menjadi kebiasaan manusia untuk melakukan kilas balik diakhir tahun akan apa aja yang sudah terjadi dalam hidupnya selama setahun terakhir. Hal tersebut biasanya dibarengi dengan planning yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Misal ada yang ingin lebih sukses, lebih sehat, naik gaji, dapat pacar, menikah, punya anak, punya rumah sendiri dan hal yang lainnya. Segala sesuatu hal dari yang paling sederhana hingga yang besar. Untuk gue, tahun 2024 itu adalah tahun gue untuk berproses, berusaha dan belajar. Yaa walaupun setiap tahun memang pasti belajar, tapi gue lebih kerasa belajar beneran. Di tahun itu gue sedang di fase mencari lebih mendalam tentang diri gue, tentang apa yang gue inginkan dan mencocokkan hal-hal yang baru kedalam kehidupan gue.  Ternyata banyak banget catatan yang harus gue perbaiki, mulai dari aktivitas, pekerjaan, e...

Menghargai Perempuan Sebagai Seorang Perempuan

  Dalam rangka merayakan 16 HAKTP yang akan di mulai dari tanggal 25 November sampai 10 Desember, gue mau nulis tentang beberapa hal yang selama ini menjadi titik balik gue sebagai perempuan yang pernah mendapatkan diskriminasi dan juga stereotipe yang cukup buruk di mata masyarakat hanya karena keberadaan gue. Khusus untuk tulisan kali ini, gue melakukan riset kecil-kecilan dari kehidupan gue pribadi dan juga beberapa dari teman-teman online yang selama ini gue perhatiin sering kali menjadikan perempuan lain sebagai objektifikasi dalam kekerasan. Dulu waktu mendengar tentang kekerasan, gue langsung terbesit dengan satu kata yaitu "pukulan" . Ketika seseorang mendapatkan perlakuan yang buruk seperti dipukul, ditendang, ditampar dan ditonjok. Itu semua adalah bentuk kekerasan fisik. Gue belum menyadari ternyata masih banyak bentuk kekerasan lainnya, seperti kekerasan psikis, kekerasan seksual dan kekerasan penelantaran. Di tulisan kali ini gue akan memberikan contoh dari keke...

Mencari Sebuah Kenyamanan (Usaha)

Seberapa besar tingkat ketidaknyamanan hidup dari seorang manusia, kalo di kasih skala 1-10 gue akan milih 11. Why? (Cek sound satu,dua,tiga...) Jujur di tahun 2022 ini gue lebih banyak menghabiskan waktu di rumah aja, situasi ini membuat gue cukup tidak terkontrol, kecemasan makin menggila dan overthinking gue terhadap sesuatu kian meningkat. Ketidaknyamanan yang sedang gue hadapi muncul karena beberapa faktor yang mendominasi tubuh dan juga pikiran. Rasanya bingung diri ini mau gimana dan harus bagaimana, sebab jawaban yang gue dapat selalu ambigu. Awalnya gue mikir "Ah, gue lebih suka mencari dan mendapatkan informasi dari official statement , di luar dari itu gue gak akan memikirkannya." Tapi seiring berjalannya waktu, gue malah terjebak di situasi yang tidak menguntungkan. Lantas apa yang bisa dilakukan diri ini? Kemana lagi gue harus menemukan jawaban? Sebagai seorang muslimah yang Insya Allah sedang belajar istiqamah, tentu gue akan mencari jawaban di.... google . Kala...