Langsung ke konten utama

Cerita Pendek (Delusi)

Sebenarnya, aku sudah terlalu lelah terus menerus mendengarkan kebisingan itu. Manusia juga butuh istirahat, aku pun sama, butuh untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatku kelelahan. Terkadang tanpa tidak sengaja, aku sedikit keceplosan, namun itu tidak mengubah kisah ini menjadi lebih baik.

Ahh, entah bagaimana memulainya, semua berjalan begitu saja. Baik ibu, adik maupun tetangga yang mulai berisik akhir-akhir ini, sebenarnya... aku tidak begitu ingat. Ya, lebih tepatnya aku tidak ingin mengingatnya. Bukankah menyedihkan harus memaksa diri untuk melupakan hal semacam itu. Tetapi aku baru sadar bahwa dibalik kata "Melupakan" akan ada luka yang sulit untuk disembuhkan. Mungkin benar kata pepatah, "Menerima dengan hati yang ikhlas lebih baik daripada melupakan." dan hal semacam itu benar adanya, bahwa aku harus tau cara menerima ini semua.

Tidak apa-apa, aku akan tetap menceritakannya karena kamu pun belum pernah mendengar kisah ini. Tapi, sepertinya ini akan menjadi cerita yang panjang di antara kita. Tapi apakah kamu akan mendengarkan, karena sejak dulu tidak ada yang mau mendengar dan percaya dengan apa yang aku ceritakan, kecuali satu sosok yaitu Ayah.

Duh, maaf-maaf jika ini tidak nyambung, aku memang suka melenceng dan berjalan tidak sesuai arah, katanya karena aku berbeda. Berbeda dengan Adikku yang sering mendapatkan pujian dari setiap manusia yang ada dihadapannya. Aku yang awalnya tidak ingin tahu banyak hal, tiba-tiba ingin selalu mencari tahu perbedaan itu. Bukankah begitulah kita, sebagai manusia, ingin lebih dari sekedar tahu.

Tiap kali perasaanku bicara begitu, aku hanya tertawa kecil, ternyata aku sama loh dengan kalian tetapi kenapa Ibu seperti malu telah melahirkanku, beda dengan Ayah. Yang mendukung dan mendengarkan setiap celotehanku. Tapi orang sebaik Ayah selalu pergi dengan cepat, ketika aku dalam kondisi sadar, aku kembali menangis sebab kepergian Ayah. 

Sejujurnya aku sudah tidak ada pegangan lagi untuk tetap hidup, ini sangat melelahkan. Untuk terus mendengarkan kebisingan yang tak kunjung mereda, telinga ini sangat panas, isi kepalaku sudah penuh tapi tidak ada yang bisa membantuku, kecuali Ayah.

Tidak ada yang memelukku di saat tubuh ini mulai gemetaran, tidak ada yang menenangkan di saat aku menangis, Tidak ada!! Ibu hanya sibuk mencari bungkusan obat yang selalu aku sembunyikan, karena jika bungkusan itu ketemu, Ibu akan memaksaku untuk meminumnya. Adik... dia selalu mengurung dirinya di dalam kamar ketika kondisiku sedang tidak baik-baik saja. Memang hubunganku dengan Adik tidak begitu baik, kami jarang berkomunikasi selayaknya keluarga, kurasa ia takut dengan kehadiranku.

Aku tidak tahan dengan bau menyengat dari bungkusan itu, aku pun takut setelah Ibu memaksaku meminumnya, tatapan Ibu seperti orang kesurupan, menatapku dengan tajam, seolah membiarkan aku mati setelah meminum pil-pil itu. Aku juga tidak mau selamanya berada di posisi ini, karena bukankah itu tidak adil? Bukankah Ibu dan Adik adalah keluarga ku, kita terhubung dalam ikatan darah. Aku tidak mau merasakan sakit ini sendiri. Memang terdengar jahat, tapi Ibu dan Adik juga harus menanggungnya bukan?

Aku hanya ingin hidupku lebih baik dari ini. Untuk lebih dekat dengan Ibu dan Adik, bisa menjadi anak yang berbakti serta menjadi kakak yang dipercaya. Apakah kita bisa menjadi keluarga utuh walaupun tanpa Ayah?

Entahlah, berharap itu sangat menyakitkan. Lagipula kata Ayah, "Badai itu akan berlalu, seberapa besar terpaan-nya, jika kita mampu bertahan pasti akan mudah di lalui.", setidaknya aku ingin percaya dengan kalimat terakhir Ayah. Karena ketika semua usai, perasaan-perasaan itu kini membuatku mengerti bahwa memilih untuk menerima, menunggu atau bahkan mengikhlaskan adalah memahami arti hidup. 

Senang rasanya bisa menceritakan semua perasaan ini. Harusnya aku bisa untuk berbicara kepada Ibu dan Adik bahwa aku akan baik-baik saja, aku akan pulih dan bisa memeluk kalian. Hanya ini yang ingin aku lakukan, sebelum aku pergi menyusul Ayah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nilai dan Prinsip : Intersectionality & Inclusiveness Part-2 (Hari kedua "Kelas Literasi Feminis")

Hai teman-teman, karena hari kedua ini gue sudah memasuki materi pertama pada kegiatan KLF dan sudah mendengarkan diskusi serta menyampaikan pertanyaan, maka sesi pertama selesai dengan begitu banyak pembahasan yang cukup memberikan informasi tentang Intersectionality dan Inclusiveness, tepat pukul 12.10 WIB kami diizinkan istirahat makan siang, menunaikan ibadah solat (bagi beragama Islam) waktu yang diberikan sekitar 45 menit untuk kami rehat karena berjam-jam di layar laptop atau ponsel nantinya akan merusak kesehatan mata jadi kami gunakan sebaik mungkin waktu istirahat untuk refresh kembali tubuh dan pikiran. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.55 WIB ruang zoom kembali dibuka, sebelum memasuki sesi materi kedua kami melakukan senam wajah agar tidak mengantuk saat mendengarkan materi, karena jam siang itu godaan bagi kita untuk mengantuk maka kamipun melakukan ice breaking juga sekitar 10 menit. Selesai melakukan senam dan ice breaking kami mulai pada tahap sesi materi. Se...

Bolehkah menjadi manusia yang biasa-biasa aja?

Bertahan, Menerima dan Ikhlas. ‎Tiga kata, yang sekarang mencoba masuk ke dalam hidup gue. Sekeras apapun usaha gue untuk mengabaikan, tapi pada akhirnya mereka memang di takdirkan untuk ada di kehidupan gue. Sebagai manusia yang gak begitu suka dengan permasalahan yang kompleks, ketiga kata ini bakal jadi boomerang. ‎Gue butuh ruang untuk gak memikirkan semua itu. Tapi terkadang pertanyaan random bakal keluar saat pikiran mulai overthinking , dan akhir-akhir ini gue ngerasa semua pikiran negatif mulai bersarang di otak kecil gue. Tanpa disadari gue sering mempertanyakan "Nggak apa-apa kan kalau jadi orang biasa aja?" . Dalam arti, gak lagi berlomba untuk jadi pemenang atau tidak selalu menjadi yang terbaik. ‎Di sisi lain, gue masih bertanya-tanya "Orang biasa tuh, seperti apa sih?" ‎Apakah menjadi orang yang tidak melakukan apapun? atau menjalani hidup sehari-hari tanpa memikirkan ekpektasi orang? ‎Seberapa jauh gue harus melangkah untuk bisa dianggap berhasil?  ‎...

ShareYuk (Jujutsu Kaisen 0)

Hai teman-teman, ditulisan kali ini gue pengen mencoba untuk mereview film, drama atau anime. Walaupun masih awam banget dalam dunia review tapi gue harap kalian bisa menikmati dan memahami dengan apa yang akan gue share. Sebelumnya gue mau memperkenalkan segmen ShareYuk yang tercetus karena kebiasaan baru yang akhir-akhir ini sedang gue geluti yaitu menonton, sebenarnya sudah cukup banyak film, drama & anime yang gue tonton tapi kayaknya terlalu hampa banget kalau hanya gue sendiri yang menikmati, jadi kepikiran untuk "Yaudah, gue coba belajar review deh, sebagai informasi & referensi buat temen-temen kalau ingin menonton" Nah begitu ide ini tercetus maka film pertama yang akan gue share yaitu Movie Jujutsu Kaisen 0 (Disclaimer : Sebagai informasi kalau tulisan ini mengandung banyak sekali spoiler jadi yang tidak ingin terspoilerkan harap untuk menepi serta tidak melanjutkan membaca, terima kasih atas pengertiannya. Oke, gue lanjut ya untuk mereview). Jadi sebelum ...