Langsung ke konten utama

Mencari Sebuah Kenyamanan (Usaha)


Seberapa besar tingkat ketidaknyamanan hidup dari seorang manusia, kalo di kasih skala 1-10 gue akan milih 11. Why?

(Cek sound satu,dua,tiga...)

Jujur di tahun 2022 ini gue lebih banyak menghabiskan waktu di rumah aja, situasi ini membuat gue cukup tidak terkontrol, kecemasan makin menggila dan overthinking gue terhadap sesuatu kian meningkat. Ketidaknyamanan yang sedang gue hadapi muncul karena beberapa faktor yang mendominasi tubuh dan juga pikiran. Rasanya bingung diri ini mau gimana dan harus bagaimana, sebab jawaban yang gue dapat selalu ambigu. Awalnya gue mikir "Ah, gue lebih suka mencari dan mendapatkan informasi dari official statement, di luar dari itu gue gak akan memikirkannya." Tapi seiring berjalannya waktu, gue malah terjebak di situasi yang tidak menguntungkan.

Lantas apa yang bisa dilakukan diri ini? Kemana lagi gue harus menemukan jawaban?


Sebagai seorang muslimah yang Insya Allah sedang belajar istiqamah, tentu gue akan mencari jawaban di.... google.

Kalau kalian searching "Cara mengatasi stress" Maka akan muncul ratusan artikel yang akan menjawab pertanyaan kalian, namun dari yang gue lihat rata-rata jawaban 2 teratas adalah "olahraga dan meditasi". Bolehlah gue coba nasihat dari google. (Semoga berhasil)


Mulai dari olahraga yang ringan seperti yoga atau lari pagi, dikarenakan gue orangnya moody-an akan segala hal, tentu saja olahraga manja ini tidak bertahan lama hanya sekitar seminggu. Lalu mencoba untuk bermeditasi, alih-alih mengatur nafas, gue malah sesak nafas, sebab tidak bisa merasakan meditasi yang sedang gue lakukan. (Emang banyak alesan elu mah!) 


Setelah gue mencoba ke-2 aktifitas ini serta menelaah dengan seksama ternyata tidak begitu efektif, karena gue tidak tau apa yang sebenarnya sedang gue rasain. Gimana mau menemukan metode yang tepat sasaran kalau gue aja gak tau sasarannya apa. Oke, setelah gue berunding dengan pikiran, gue kembali memetakan apa yang menjadi troublemaker di kehidupan gue. Alhasil gue menemukan bahwa ada 3 perasaan yang mendominasi diri gue saat ini, yaitu terkekang, pesimis dan takut. Kombinasi yang begitu intens ini yang menimbulkan segala masalah baru. Tentu saja, gue butuh pelampiasan yang akurat. Tapi kemana? Nanti gue ceritain, jadi harap sabar ya.


Setelah sasaran gue jelas, akhirnya usaha gue untuk menemukan jawaban yang tepat lebih terarah. Emang ada beberapa miss and error, cuma setidaknya gak terlalu banyak usaha yang sudah gue lakukan menjadi sia-sia. Nah, sekarang akan masuk ke inti dari tulisan ini. Gue mau sedikit cerita beberapa kegiatan yang menurut gue efektif bikin gue tenang.


Btw, disclaimer dulu ye, apa yang works buat gue belum tentu akan works buat kalian, back again persoalan cocok-cocokan aja.


Untuk mengurangi rasa terkekang, gue mulai aktif menulis. (Blog, Medium and other)

Karena gue gak bisa bebas dari jeratan tali kekangan, gue merasa kehilangan kendali atas hidup gue sendiri. Kebanyakkan diatur orang lain, seakan ini bukan kehidupan gue. Nah pas banget media tulisan menjadi salah satu yang bisa melonggarkan tali ini. Di Blog atau media tulisan lain gue seperti bebas meluapkan segala emosi yang gak terkendali, di sini gue lebih mengenal siapa diri gue sendiri.

Awalnya agak malu-malu kucing gitu kalo mau di posting, terus mencoba yakin akan betah ehh beneran aja dong, malah keterusan. Mantap betull pokoknya, tiap kali menulis tuh gue ngerasa sedikit demi sedikit mendapatkan sense of control yang selama ini dirampas.


Untuk mengurangi rasa pesimis, gue belajar sketch.

Hidup di kelilingi kehampaan (cakilee bahasa gue) yang gak tau arah tujuan berasa kayak lagi jalan di ruangan gelap yang gak tau harus ke mana. Gak tau harus maju atau mundur, gak tau bakalan ada yang nolongin atau gak, gak tau harus keluar atau berdiam diri, pokoknya seperti mati lampu (ya sayang seperti mati lampu, etdah malah nyanyi lagi). Biar gue gak terjebak terlalu lama di kegelapan tak berujung, gue berusaha membiasakan diri dengan melihat kertas putih yang akan menjadi bahan imajinasi. 

Gue lebih nyaman sketch sesuatu yang random dipikirkan, awalnya insecure banget liat hasil gambaran gue, absurd banget tapi tujuan gue nge-sketch kan bukan untuk terlihat bagus dan mirip. Yang penting setidaknya pikiran gue tidak lagi gelap, karena sudah berhasil menemukan imajinasi sendiri.


Untuk menghadapi rasa takut, gue mencoba fangirling.

Gue orangnya suka berkenalan dengan orang-orang yang baru tapi problemnya gue kesulitan menyesuaikan diri, jadi untuk ke step selanjutnya gue agak kebingungan harus ngapain. Takut banget untuk ngomong sampai akhirnya malah lost contact.

Kebetulan salah satu temen gue lagi memasuki dunia K-popers, setelah gue melihat dia yang basicnya sama kek gue tapi tiba-tiba aja dia berubah 180° jadi lebih percaya diri, otomatis gue merasa, "Ini dia yang gue cari!".

Gue mulai merambahi dunia K-Popers dan menemukan satu tempat, fandom yang ternyata dari segala aspek sangat cocok buat gue adalah Army. Yapzz gue mulai mencintai BTS. Mulai dari karyanya, kepribadian setiap member dan juga prestasi mereka, yang membuat gue semangat untuk belajar lebih giat lagi.

Saat melihat dan mendengarkan lagu mereka gue merasa kembali produktif padahal cuma modal kouta, alias streaming. Additional point to lift up my mood.


Selesai sudah tulisan ini, setidaknya bisa menjadi bacaan yang bermanfaat, semoga kita bisa lebih care lagi dengan kesehatan mental karena ini bukan hal yang sepele, yang bisa didiagnosis sendiri, jika perasaan emosi yang muncul sudah berlebihan dan tidak terkontrol akan lebih baik konsultasi ke profesional. Jangan takut atau malu untuk bertanya dengan psikolog, karena hanya kita sendiri yang bisa mengerti diri ini. 

Akhir kata gue ucapkan terima kasih sudah membaca blog ini, semoga kita selalu sehat jiwa dan raga, sampai jumpa...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Depan Mau Apa?

Udah lama banget gue gak nongol untuk menulis, sampai gak kerasa kalau udah ganti tahun aja. Banyak hal yang terjadi selama 12 bulan. Dan sudah menjadi kebiasaan manusia untuk melakukan kilas balik diakhir tahun akan apa aja yang sudah terjadi dalam hidupnya selama setahun terakhir. Hal tersebut biasanya dibarengi dengan planning yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Misal ada yang ingin lebih sukses, lebih sehat, naik gaji, dapat pacar, menikah, punya anak, punya rumah sendiri dan hal yang lainnya. Segala sesuatu hal dari yang paling sederhana hingga yang besar. Untuk gue, tahun 2024 itu adalah tahun gue untuk berproses, berusaha dan belajar. Yaa walaupun setiap tahun memang pasti belajar, tapi gue lebih kerasa belajar beneran. Di tahun itu gue sedang di fase mencari lebih mendalam tentang diri gue, tentang apa yang gue inginkan dan mencocokkan hal-hal yang baru kedalam kehidupan gue.  Ternyata banyak banget catatan yang harus gue perbaiki, mulai dari aktivitas, pekerjaan, e...

Jangan lupa bahagia, seriusan ini cuy!

Beberapa bulan belakangan ini gue sering banget mendengar omongan-omongan yang bikin down , entah itu tentang pekerjaan, lifestyle bahkan kehidupan pribadi gue yang penuh dengan tanda tanya.  Jadi begini temen-temen, kadang menerima saran dari orang tuh ada baiknya. Gue salah satu orang yang sering banget mendapatkan saran karena menurut gue kita perlu loh menanyakan hal yang gak bisa kita kelola sendiri, but sometimes people change. Termasuk diri gue sendiri.  Manusia gampang berubah, hal tersebut bukan sesuatu yang baru. Ada yang berubah kearah yang lebih baik, ada pula kearah yang buruk. Ada yang berubah karena kesadaran sendiri. Ada yang terpengaruh keadaan sekitar. Perubahan bisa terjadi secara drastis dan begitu cepat namun ada juga yang berubah secara perlahan. Kadang perubahan ini yang dapat mendatangkan kebahagiaan atau justru kesedihan. Tapi entah kenapa gue setuju dengan lagu dari album Indigo-RM judulnya "change pt 2" "Things change, people change Everythin...

Tau gak, jadi DEWASA itu Menyebalkan?

Seiring bertambahnya usia, ada satu momen yang pengen banget gue skip, salah satunya adalah menjadi dewasa. Growing up is the most complicated situation ever , hal paling challenging  yang kebanyakan berakhir dengan keputusasaan, karena manusia sarangnya overthinking akan harapan.  Ribet, butuh usaha, butuh kerja keras, butuh pengorbanan, butuh bertahan hidup, butuh banyak sekali hal yang kadang kita kasih, baik yang bisa atau bahkan dipaksa untuk melewati ranah kemampuan kita. Semata-mata dengan alasan karena sudah dewasa.  Ehh iyaa, tapi postingan ini bukan untuk mengajak para pembaca berfikir bahwa menjadi dewasa itu sangat menyebalkan. Jangan buru-buru menyimpulkan dulu, sebagian besar orang-orang yang sudah lebih dahulu merasakan asinnya garam akan mengatakan : "Jangan cepet-cepet menjadi dewasa deh" Itu kalimat yang sering banget gue dengar ketika masih berusia remaja, sekarang gue sedikit paham dengan kalimat itu. Beda orang beda menerjemahkan yaa. Semua kembali k...