Langsung ke konten utama

#ObrolanGue (Kapan?)


Aktivitas yang gue lakukan akan menjadi rekam jejak hidup, yang nantinya akan digunakan oleh masyarakat untuk menilai apakah gue layak atau tidak menempati sebuah circle yang lebih besar yaitu lingkungan. Namun, tanpa sadar gue terlalu asyik dengan kehidupan sendiri yang lebih mengutamakan kenyamanan gue ketimbang doktrin dari masyarakat, lalu ada segelintir orang yang suka banget berkomentar perihal hidup gue, nggak masalah sih selama itu bisa jadi motivasi untuk terus maju pasti gue terima masukan yang ada. Namun ada kata yang menjadi struggle buat gue, terkadang ini juga masalah yang sulit untuk gue jawab, perihal KAPAN? 

Banyak masukan yang gue terima semasa hidup dari mulai pekerjaan, penampilan, kebiasaan, bahkan kepribadian. Pasti sih, semua orang akan dapat masukan dari berbagai aspek termasuk gue, balik lagi kalau itu positif untuk kehidupan bisa diambil inti kebaikannya tapi kalau negatif ya sekedar lewat aja, seperti pepatah yang sering gue dengar "Masuk dari telinga kanan keluar dari telinga kiri." Kita bisa kok untuk mem-filter saran yang kita dapatkan. 

Bye the way untuk case gue sendiri yang terbilang cukup sering dilontarkan yaitu KAMU KAPAN?  

Cerita sedikit, minggu lalu gue datang ke acara pernikahan adik teman gue, senang dan bahagia pokoknya karena gue juga kenal dengan si calon, nah di sana tuh ada teman gue juga, dia bawa doi-nya singkat cerita selesai kami salaman dengan mempelai, gue dan teman-teman nggak lantas pulang tapi kami ngobrol santuy karena jarang ketemu jadi temu kangen dulu, disela obrolan ada pertanyaan yang keluar "Kapan kamu nyusul?" Paham sih kalimat ini, gue cuma bisa jawab "Kalau sudah waktunya pasti dipertemuan kok." Nggak lantas selesai tuh pertanyaan masih berlanjut dong "Mau yang gimana sih? Jangan terlalu pilih-pilih." Balik lagi gue jawab "iya, nggak milih-milih kok." Gue lebih baik menjawab singkat aja, ketimbang bertele-tele karena ini pertanyaan yang cukup sensitif untuk dijawab, sebab semua ini adalah pilihan. 

Kalau pertanyaan yang begini pasti sering didapatkan orang-orang yang memang usianya sudah terbilang mencukupi tapi bukan berarti kami juga tidak memikirkan perihal pasangan hidup tapi ada prioritas yang memang harus di dahulukan, balik lagi sih semua soal waktu. 

Pembelajaran juga penting dalam membangun sebuah keluarga, btw menurut gue kalau cuma sekedar menikah namun nggak ada tujuan yang pasti, what for? Setidaknya kan kita ada opsi untuk menentukan apa yang harus di lakukan. Tapi gue yakin kok sebagian orang yang memutuskan untuk berkeluarga pasti sudah memikirkan matang-matang apa yang akan mereka lakukan setelahnya. Semua perihal diri masing-masing. Jangan terlalu merasa dikejar umur kalau sudah waktunya dan di situasi yang tepat pasti KAPAN itu akan berakhir kok. 

Lebih baik kita memperbaiki diri, lebih mendekatkan diri kepada Sang Kuasa dan juga banyak belajar agar saat waktunya tiba, kita sudah mempersiapkan segalanya. 

Jadi lebih baik kita ngobrol yang lain yuk, ketimbang obrolan yang basi perihal KAPAN? 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Depan Mau Apa?

Udah lama banget gue gak nongol untuk menulis, sampai gak kerasa kalau udah ganti tahun aja. Banyak hal yang terjadi selama 12 bulan. Dan sudah menjadi kebiasaan manusia untuk melakukan kilas balik diakhir tahun akan apa aja yang sudah terjadi dalam hidupnya selama setahun terakhir. Hal tersebut biasanya dibarengi dengan planning yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Misal ada yang ingin lebih sukses, lebih sehat, naik gaji, dapat pacar, menikah, punya anak, punya rumah sendiri dan hal yang lainnya. Segala sesuatu hal dari yang paling sederhana hingga yang besar. Untuk gue, tahun 2024 itu adalah tahun gue untuk berproses, berusaha dan belajar. Yaa walaupun setiap tahun memang pasti belajar, tapi gue lebih kerasa belajar beneran. Di tahun itu gue sedang di fase mencari lebih mendalam tentang diri gue, tentang apa yang gue inginkan dan mencocokkan hal-hal yang baru kedalam kehidupan gue.  Ternyata banyak banget catatan yang harus gue perbaiki, mulai dari aktivitas, pekerjaan, e...

Jangan lupa bahagia, seriusan ini cuy!

Beberapa bulan belakangan ini gue sering banget mendengar omongan-omongan yang bikin down , entah itu tentang pekerjaan, lifestyle bahkan kehidupan pribadi gue yang penuh dengan tanda tanya.  Jadi begini temen-temen, kadang menerima saran dari orang tuh ada baiknya. Gue salah satu orang yang sering banget mendapatkan saran karena menurut gue kita perlu loh menanyakan hal yang gak bisa kita kelola sendiri, but sometimes people change. Termasuk diri gue sendiri.  Manusia gampang berubah, hal tersebut bukan sesuatu yang baru. Ada yang berubah kearah yang lebih baik, ada pula kearah yang buruk. Ada yang berubah karena kesadaran sendiri. Ada yang terpengaruh keadaan sekitar. Perubahan bisa terjadi secara drastis dan begitu cepat namun ada juga yang berubah secara perlahan. Kadang perubahan ini yang dapat mendatangkan kebahagiaan atau justru kesedihan. Tapi entah kenapa gue setuju dengan lagu dari album Indigo-RM judulnya "change pt 2" "Things change, people change Everythin...

Tau gak, jadi DEWASA itu Menyebalkan?

Seiring bertambahnya usia, ada satu momen yang pengen banget gue skip, salah satunya adalah menjadi dewasa. Growing up is the most complicated situation ever , hal paling challenging  yang kebanyakan berakhir dengan keputusasaan, karena manusia sarangnya overthinking akan harapan.  Ribet, butuh usaha, butuh kerja keras, butuh pengorbanan, butuh bertahan hidup, butuh banyak sekali hal yang kadang kita kasih, baik yang bisa atau bahkan dipaksa untuk melewati ranah kemampuan kita. Semata-mata dengan alasan karena sudah dewasa.  Ehh iyaa, tapi postingan ini bukan untuk mengajak para pembaca berfikir bahwa menjadi dewasa itu sangat menyebalkan. Jangan buru-buru menyimpulkan dulu, sebagian besar orang-orang yang sudah lebih dahulu merasakan asinnya garam akan mengatakan : "Jangan cepet-cepet menjadi dewasa deh" Itu kalimat yang sering banget gue dengar ketika masih berusia remaja, sekarang gue sedikit paham dengan kalimat itu. Beda orang beda menerjemahkan yaa. Semua kembali k...